Update Korban Banjir Sumatera: 1.140 Orang Meninggal, 163 Warga Masih Hilang
News DeltaPawan – Update Korban Banjir Sumatera besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada beberapa hari terakhir telah menimbulkan kerusakan yang sangat parah dan menelan banyak korban. Hingga 28 Desember 2025, laporan terbaru menunjukkan bahwa jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir ini telah mencapai 1.140 orang, sementara 163 warga lainnya masih dilaporkan hilang.
Banjir yang dipicu oleh hujan lebat sejak awal pekan lalu ini telah merendam sejumlah provinsi di Sumatera, termasuk Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, dan Lampung. Air yang meluap dari sungai-sungai besar ini menghancurkan ribuan rumah, jalan raya, serta fasilitas umum lainnya. Beberapa daerah bahkan mengalami kerusakan parah, dengan banyaknya bangunan yang tersapu arus atau rusak akibat longsoran tanah yang terjadi bersamaan dengan banjir.
Jumlah Korban Terus Bertambah
Pemerintah dan tim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus melakukan upaya penyelamatan dan evakuasi, tetapi jumlah korban tewas terus bertambah seiring dengan perkembangan situasi. Ribuan rumah warga hancur, dan banyak dari mereka yang terjebak di dalam rumah atau bahkan terbawa arus banjir yang datang dengan cepat.
Menurut data yang diterima dari BNPB, sebagian besar korban meninggal dunia akibat terjebak di dalam rumah yang runtuh atau terbawa arus deras. Sebagian korban lainnya juga meninggal akibat tertimpa longsoran tanah yang terjadi di beberapa titik.
“Proses identifikasi korban yang meninggal masih terus berlangsung. Banyak dari mereka yang ditemukan dalam kondisi sudah terbawa arus atau tertimbun tanah,” ungkap Kepala BNPB, Letnan Jenderal Suharyanto. “Kami juga sedang berupaya semaksimal mungkin untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, namun tantangan yang dihadapi sangat besar, mengingat banyaknya daerah yang terisolasi akibat banjir.”
Pencarian 163 Warga yang Masih Hilang
Sementara itu, sebanyak 163 warga dilaporkan masih hilang dan hingga kini tim SAR gabungan terus melakukan pencarian. Di beberapa wilayah, kondisi terendam air dan terputusnya akses jalan membuat tim penyelamat kesulitan untuk mencapai daerah-daerah yang terisolasi.
“Kami menggunakan helikopter, boat, dan peralatan penyelamatan lainnya untuk mencapai lokasi yang sulit dijangkau,” ujar Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Ahmad Yani. “Meskipun banyak wilayah yang terendam, kami berkomitmen untuk menemukan dan menyelamatkan warga yang masih hilang.”
Di antara korban yang hilang, banyak di antaranya adalah anak-anak dan lanjut usia yang terjebak di rumah-rumah mereka. Tim pencari juga bekerja sama dengan relawan lokal, termasuk warga setempat yang berusaha mencari saudara mereka yang terpisah.
Baca Juga: Drone Rudal Rusia Hantam Ibu Kota Ukraina, 1 Orang Tewas-Puluhan Luka
Kerusakan Infrastruktur yang Luas
Selain korban jiwa, kerusakan infrastruktur juga sangat parah. Ribuan rumah telah rusak total, sementara banyak jalan raya dan jembatan yang rusak atau terputus. Bandara dan pelabuhan di beberapa daerah juga terhenti operasionalnya sementara waktu karena kondisi banjir yang terus memburuk.
Di Medan, ibu kota Sumatera Utara, sejumlah kawasan utama terendam dengan ketinggian air mencapai lebih dari 2 meter. Banyak kawasan pemukiman yang sebelumnya padat penduduk, kini terlihat kosong dengan banyaknya kendaraan dan barang-barang yang terbawa arus.
Selain itu, fasilitas publik seperti rumah sakit dan sekolah juga terdampak. Banyak pasien yang harus dipindahkan karena rumah sakit tempat mereka dirawat terendam, sementara beberapa sekolah terpaksa menunda ujian dan kegiatan belajar mengajar.
Peringatan Dini dan Langkah Mitigasi
Pemerintah pusat dan daerah telah mengeluarkan beberapa langkah mitigasi dan upaya darurat untuk mengatasi bencana ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini terkait hujan lebat yang dapat menyebabkan banjir dan tanah longsor, namun dampaknya jauh lebih besar dari yang diperkirakan.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti instruksi dari pemerintah daerah dan tim penyelamat yang terus bekerja tanpa kenal lelah. BPBD juga mendirikan beberapa posko pengungsian untuk menampung warga yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir.
Di sisi lain, kepala daerah di provinsi yang terkena dampak banjir juga menggalang bantuan berupa makanan, obat-obatan, dan pakaian untuk para korban yang berada di pengungsian.
Bantuan dari Masyarakat dan Dunia Internasional
Bantuan untuk para korban banjir terus mengalir, baik dari masyarakat maupun dari berbagai lembaga internasional. Banyak organisasi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pemerintah negara sahabat seperti Singapura, Malaysia, dan Jepang turut memberikan bantuan berupa peralatan penyelamatan, sumber daya manusia, serta dana bantuan.
Bantuan logistik dan medis juga sangat diperlukan untuk mendukung operasi penyelamatan dan pengobatan bagi korban yang terluka. Beberapa tim medis internasional telah diterbangkan ke lokasi untuk membantu penanganan medis, terutama bagi korban yang mengalami luka berat akibat banjir dan longsor.
Update Korban Banjir Sumatera Kondisi Ke Depan: Ancaman Banjir Susulan
Meski hujan sudah mulai mereda di beberapa daerah, ancaman banjir susulan masih tetap ada. Ketinggian air di beberapa sungai masih cukup tinggi dan berpotensi meluap kembali, mengingat curah hujan yang tinggi masih diprediksi akan terjadi selama beberapa hari ke depan.
Pemerintah dan petugas penyelamat telah mengeluarkan peringatan lanjutan bagi warga yang tinggal di daerah rawan banjir untuk waspada terhadap potensi bencana susulan. Beberapa daerah yang sudah mulai surut kini mulai dihantui ancaman banjir bandang yang bisa datang sewaktu-waktu.
Update Korban Banjir Sumatera Pentingnya Mitigasi dan Kesiapsiagaan
Bencana banjir ini kembali menegaskan pentingnya mitigasi bencana dan kesiapsiagaan yang lebih baik, terutama di wilayah yang rawan banjir. Pembangunan infrastruktur yang tahan bencana dan sistem peringatan dini yang lebih efektif diharapkan dapat mengurangi dampak bencana serupa di masa depan.
Kepala BNPB, Letjen Suharyanto, mengimbau semua pihak untuk lebih serius dalam pembangunan sistem drainase dan pengelolaan lingkungan yang lebih ramah bencana. “Kita harus memastikan bahwa bencana seperti ini tidak terulang lagi dengan cara memperbaiki sistem pengelolaan air dan lingkungan yang lebih baik,” tegasnya.
Kesimpulan: Perlunya Solidaritas dalam Menghadapi Bencana
Banjir di Sumatera telah menimbulkan banyak kerugian, baik materiil maupun korban jiwa. Namun, dalam menghadapi bencana besar ini, solidaritas antara masyarakat, pemerintah, dan dunia internasional sangat penting untuk mempercepat proses pemulihan. Diharapkan dengan adanya dukungan yang kuat dan koordinasi yang baik, korban yang hilang dapat segera ditemukan, dan proses pemulihan dapat berlangsung dengan lebih cepat.















